VSAT
VSAT (Very Small Aperture Terminal) adalah stasiun bumi mini — antena 0,6–2,4 m — yang membawa jaringan data ke tempat yang tak terjangkau kabel dan seluler. Di Indonesia, VSAT adalah pahlawan senyap: ATM di pulau kecil, puskesmas di pegunungan, sekolah 3T, kapal, tambang, dan puluhan ribu titik SATRIA-1 semuanya bicara lewat piringan kecil ini.
Halaman ini merangkai semua bab sebelumnya menjadi satu sistem nyata.
Topologi: star mengangkasa
Arsitektur VSAT klasik adalah topologi star dengan pusatnya di bumi dan "kabelnya" di orbit:
┌──────────┐
│ SATELIT │ GEO / HTS
└─▲─────┬──┘
outbound/forward│ │ inbound/return
(TDM, satu carrier) (MF-TDMA, banyak carrier)
┌─────────┘ └──────────┐
┌───────┴────────┐ ┌────────┴────────┐
│ HUB / GATEWAY │ │ REMOTE REMOTE… │ (ratusan–ribuan)
│ antena 7–13 m │ │ antena 0,9–1,8 m│
└───────┬────────┘ └────────┬────────┘
internet / LAN lokal:
jaringan korporat PC, router, Wi-Fi, EDC- Outbound (forward): hub memancarkan satu carrier TDM besar berisi data untuk semua remote; tiap remote memungut bagiannya.
- Inbound (return): para remote berbagi kanal dengan MF-TDMA — dijatah slot waktu pada beberapa frekuensi oleh hub, sesuai permintaan.
Komunikasi antar-remote harus lewat hub → dua lompatan satelit (double hop, RTT ±1 detik). Topologi mesh (remote-ke-remote langsung) ada untuk kasus khusus seperti trunking telepon antar-pulau.
MF-TDMA: berbagi transponder
Inilah multiple access dalam praktik: bandwidth transponder yang mahal dibagi dinamis. Remote yang sedang idle nyaris tak memakai apa-apa; saat ATM mengirim transaksi, hub memberinya slot dalam hitungan ratusan milidetik. Rasio berbagi (contention) inilah yang membedakan layanan murah (1:20) dari layanan premium (1:1, CIR terjamin).
Anatomi terminal remote
Persis rantai sinyal ground station, dikecilkan dan dimurahkan:
| Bagian | Nama | Fungsi |
|---|---|---|
| ODU (outdoor) | Antena + feed | Reflektor 0,9–1,8 m (Ku/Ka; C-band lebih besar) |
| BUC | Block up-converter — up-convert + penguat kirim (2–10 W) | |
| LNB | Penguat terima derau rendah + down-convert ke L-band | |
| IDU (indoor) | Modem satelit | Modulasi DVB-S2/ACM, MF-TDMA, QoS, PEP |
| Kabel | IFL (koaksial) | Menghubungkan ODU–IDU hingga puluhan meter |
Dari sudut pandang jaringan lokal, modem VSAT hanyalah gateway biasa: di belakangnya ada switch, VLAN, router, dan LAN yang sepenuhnya normal.
Instalasi: kenapa harus presisi
- Pointing — antena diarahkan ke satelit (azimuth, elevasi, dari koordinat lokasi + slot orbit satelit) sampai sinyal maksimum.
- Polarisasi — feed diputar tepat; salah polarisasi berarti mengganggu pengguna lain di transponder kembarannya.
- Cross-pol test dengan operator (line-up) — wajib sebelum terminal diizinkan memancar penuh.
- Komisioning: modem mengunduh konfigurasi dari hub, masuk jaringan, siap dipakai.
Antena melenceng 1° di GEO = melenceng ±600 km di sabuk orbit — cukup untuk "berteriak" ke satelit tetangga. Karena itu regulasi mensyaratkan instalatur tersertifikasi.
PEP dan akselerasi TCP
Semua masalah TCP di RTT 500 ms ditangani di sini:
- Modem remote dan hub menjalankan PEP: koneksi TCP "dipotong" di kedua ujung, ACK dijawab lokal, protokol khusus dipakai di segmen angkasa.
- HTTP prefetching/caching mempercepat web.
- QoS memprioritaskan trafik interaktif (VoIP, EDC) di atas unduhan besar — bandwidth satelit terlalu mahal untuk antre gaya FIFO.
Pengalaman praktis: unduhan besar bisa kencang mendekati kapasitas, tapi aplikasi ber-RTT-sensitif (SSH interaktif, video call) tetap terasa "jauh" — fisika GEO tak bisa di-proxy.
Merancang layanan: parameter yang diperjualbelikan
| Istilah | Arti | Dampak harga |
|---|---|---|
| CIR | Committed Information Rate — kecepatan yang dijamin | Paling mahal |
| MIR | Maximum Information Rate — plafon saat jaringan lengang | Murah |
| Contention | Rasio berbagi kapasitas (1:1 … 1:50) | Makin besar makin murah |
| Availability | % waktu layanan hidup (99,5% khas Ku tropis) | Margin hujan = biaya |
| FAP | Fair Access Policy — kuota sebelum diperlambat | Layanan konsumen |
Merancang VSAT = kompromi familiar: band (C tahan hujan vs Ku/Ka murah-kapasitas), ukuran antena (kecil-murah vs margin besar), dan CIR vs contention. Semuanya bermuara di link budget.
VSAT vs LEO: masa depan pelosok
Starlink dkk. menawarkan RTT 20–40 ms — mengapa VSAT GEO belum mati?
| Aspek | VSAT GEO/HTS | Terminal LEO |
|---|---|---|
| Latensi | ±500–600 ms | 20–40 ms |
| CIR/SLA korporat | Matang (dedicated, QoS per layanan) | Umumnya best effort |
| Broadcast/multicast satu wilayah | Sangat efisien | Tidak efisien |
| Kendali kedaulatan (gateway lokal, lawful intercept) | Mudah | Bergantung operator global |
| Ekosistem lokal (SATRIA-1, teleport, teknisi) | Mapan | Bertumbuh |
Jawab pendeknya: keduanya akan hidup berdampingan — LEO merebut pasar konsumen yang haus latensi rendah; GEO/HTS bertahan di broadcast, backhaul ber-SLA, dan program pemerintah dengan kendali penuh. Konvergensinya pun sudah terlihat: terminal multi-orbit yang berpindah GEO↔LEO otomatis.
Kamu sudah sampai di ujung
Dua modul selesai. Kamu kini bisa mengikuti sebuah paket dari handshake TCP di laptop, melewati switch dan router, naik uplink 14 GHz, memantul di transponder 36.000 km di atas ekuator, turun ke gateway, dan tiba di internet — sambil tahu persis kenapa ia terlambat setengah detik, dan siapa yang mengamankannya di sepanjang jalan.
Praktik: konfigurasi router di sisi remote VSAT — QoS untuk link sempit, DNS cache lokal, monitoring — ada di Wireless & Satelit (MikroTik).
Selamat — dan sampai jumpa di pembaruan materi berikutnya. Kontribusi terbuka di GitHub.